Social Icons

.

gaharu plaza indonesia - sumatera utara

gaharu plaza indonesia - sumatera utara
"...Selamat Datang di Website resmi Budidaya Gaharu kemitraan dan Inokulasi GAHARU PLAZA INDONESIA..." Brand Office : Jl.Simp.Laban Desa Rawa Sari Dusun II - Kec.Aek Kuasan -Kab.Asahan - Pos Code 21275 - Medan Prov.Sumatera Utara Telp/Hp : +62812 6921 8978 e-mail : citratanigaharu@gmail.com

Kamis, 03 Oktober 2013

Export Gaharu ke Cina


JAKARTA, KOMPAS.com — China akhirnya mengimpor gaharu secara langsung dari Indonesia. Selama ini China mengimpor gaharu lewat negara perantara, seperti Taiwan, Singapura, dan Hongkong.
Ekspor gaharu langsung ke China ini ditandai dengan pengiriman perdana pada Senin (14/3/2011). Sebanyak 4 ton gaharu berbentuk serpihan dikirimkan ke China.
Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengatakan, ekspor langsung ini memberikan dua keuntungan bagi pemerintah. "Pertama, volume perdagangan kita meningkat. Kedua, petani dan pengusaha di sektor kehutanan, terutama gaharu, harganya tinggi karena tidak diambil fee lagi oleh pihak ketiga, demikian juga pihak China," ujarnya.
Ketua Asosiasi Gaharu Indonesia Mashur mengatakan, selama ini perdagangan langsung gaharu dari Indonesia ke China dihalangi sindikasi mafia. "Karena gaharu ini memang sangat mahal," ujarnya.
Mashur mengungkapkan, untuk gaharu kualitas paling tinggi di Indonesia yaitu Aquilaria filaria yang kebanyakan berada di hutan Kalimantan Timur harganya mencapai Rp 150 juta. "Kalau di China mereka bisa jual Rp 400 juta per kg," ujarnya. Sedangkan di Timur Tengah dia bilang, untuk yang kualitas tinggi ini dijual dengan harga Rp 300 juta.
Menurut Mashur, selama ini sumber gaharu Indonesia sebanyak 98 persen masih berasal dari hutan alam. "Potensinya di Indonesia masih sangat tinggi dari hutan yang sangat luas," ujarnya. Satu pohon, dia bilang, bisa menghasilkan 600 kg serpihan (chips).
Ke depannya, Kementerian Kehutanan akan mengembangkan budidaya gaharu. Saat ini budidaya gaharu sudah mulai dikembangkan di Bangka, Sukabumi, Bogor, Lampung, dan NTT.

JAKARTA - Indonesia kini bisa menembus pasar ekspor gaharu ke Tiongkok, setelah sebelumnya ekspor komoditas ini harus melewati negara ketiga, seperti Taiwan, Singapura, dan Hong Kong.

"Selain volume perdagangan kita meningkat, petani dan pengusaha gaharu nasional juga memperoleh harga yang tinggi karena tidak ada `fee` untuk pihak ketiga dari perdagangan langsung ini, demikian juga pihak Tiongkok," kata Menteri Kehutanan (Menhut), Zulkifli Hasan, di Jakarta, Senin.

Di pasar Internasional, katanya, saat meresmikan ekspor langsung perdana kayu gaharu ke Tiongkok, kebutuhan gaharu dunia setiap tahun mencapai 4.000 ton dan Tiongkok merupakan salah satu negara pengimpor gaharu terbesar dengan kebutuhan per tahun mencapai 500 ton.



Selama ini, ekspor gaharu Indonesia lebih banyak ditujukan ke Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Taiwan, Singapura, Hongkong, Amerika Serikat, dan Uni Eropa karena kesulitan untuk menembus langsung ke pasar Tiongkok.

Dalam lima tahun terakhir ini, total ekspor gaharu Indonesia berkisara 170-573 ton dengan perkiraan perolehan devisa pada tahun 2006 sebesar 26.086.350 dolar AS dan meningkat menjadi 85.987.500 dolar tahun 2010.

"Kita menargetkan dalam beberapa tahun ke depan ekspor gaharu tidak hanya bersumber dari hutan alam, tetapi juga dari hasil budidaya," katanya. Ekspor gaharu ini dilakukan dalam bentuk serpihan (chips), balok kayu (block), Serbuk (powder), dan minyak (oil).

Zulkifli mengatakan, potensi gaharu di Indonesia diperkirakan mencapai 600 ribu ton per tahun dengan sentra produksi berada di Papua, Kalimantan, dan Sumatera. Harga gaharu Indonesia berkisar Rp 100.000-150.000.000 per kg, tergantung kualitasnya.

Saat ini, budidaya gaharu sudah mulai dikembangkan di Bangka, Sukabumi, Bogor, Lampung, dan NTT. "Kalau kita mengandalkan dari alam saja tentulah pasokan terbatas," katanya.

Menurut Ketua Asosasi Gaharu Indonesia, Mashur, selama ini perdagangan langsung gaharu dari Indonesia ke Tiongkok terhalang sindikasi mafia. "Kita susah langsung masuk ke pasar negara itu karena gaharu ini memang sangat mahal," katanya.

Selama ini, menurut dia, 98 persen pasokan gaharu Indonesia masih berasal dari hutan alam. "Potensinnya di Indonesia masih sangat tinggi dari hutan yang sangat luas," katanya. Satu pohon, dia bilang bisa menghasilkan 600 kg serpihan (chips).

Gaharu kualitas paling tinggi di Indonesia "aquilaria filaria" kebanyakan berada di hutan Kalimantan Timur dan harganya mencapai Rp 150 juta per kg. "Kalau di China mereka bisa jual Rp 400 juta per kg, sedangkan di Timur Tengah untuk yang kualitas tinggi ini dijual dengan harga Rp 300 juta per kg."

Di negara tujuan, gaharu ini digunakan untuk obat-obatan, bahan baku parfum,aroma terapi, cendera mata, dan kepentingan keagamaan. (tk/ant)